PRESS RELEASE
PR No: 059/BEI.KOM/08-2016
11 Agustus 2016
Jakarta – Tingkat pendidikan generasi muda akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Khususnya ketika negara tersebut sedang memasuki era bonus demografi yang biasanya hanya terjadi satu kali dalam perjalanan suatu bangsa, seperti Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah generasi di Indonesia di 2014 mencapai 61,83 juta jiwa atau sekitar 24,53% dari 252,04 juta jiwa penduduk Indonesia, dan jumlah penduduk yang berusia di bawah 16 tahun atau calon generasi muda berjumlah 76,68 juta jiwa atau sekitar 30,42%. BPS juga memperkirakan puncak bonus demografi akan tercapai pada periode 2028 sampai dengan 2030.
Ini artinya kesempatan perekonomian Indonesia untuk lebih maju dan berkembang dengan lebih pesat lagi sangatlah besar. Studi Bank Dunia menunjukkan bonus demografi berkontribusi sekitar 30% terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi di Asia, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, investasi yang dilakukan baik oleh Pemerintah maupun institusi serta perusahaan swasta terhadap generasi muda, melalui sejumlah kegiatan pendidikan, pelatihan, ataupun kompetisi yang dihadirkan, akan berkontribusi penting terhadap masa depan Indonesia.
Dengan semangat untuk meningkatkan literasi keuangan terutama investasi saham di pasar modal kepada masyarakat Indonesia khususnya generasi muda, serta memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi generasi muda di masa depan, maka Indosat Ooredoo bekerjasama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Trimegah Securities Tbk kembali menyelenggarakan program kompetisi Indosat Stock Trading Contest (ISTC).
Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli, mengatakan pihaknya ingin menanamkan kepada generasi muda bahwa pasar modal merupakan salah satu roda penggerak ekonomi Indonesia. "Dengan menjadi investor yang aktif di pasar modal, maka kita akan secara tidak langsung membantu perekonomian Indonesia," ujar Alexander, Kamis (11/8).
ISTC adalah program kompetisi virtual saham bagi generasi muda Indonesia. Kompetisi ini adalah yang kedua kalinya diselenggarakan setelah sebelumnya sukses menjaring 8.819 calon investor baru pada tahun lalu.
Peserta kompetisi akan mendapatkan edukasi dan melakukan transaksi saham secara virtual terhadap sejumlah saham pilihan yang diperdagangkan di BEI dengan harga saham diperoleh secara realtime. Aplikasi yang digunakan sebagai sarana simulasi kompetisi ISTC peserta adalah hasil kerja sama antara Indosat Ooredoo dengan Trimegah Securities.
Indosat Ooredoo memahami bahwa jumlah investor di Indonesia sampai dengan hari ini belum mencapai 1% dari total penduduk Indonesia. Meski telah terjadi peningkatan tiap tahunnya, jumlah tersebut masih menjadi tantangan besar bagi pasar modal Indonesia, apalagi bahwa dengan tingginya tingkat imbal hasil yang dimiliki oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama 5-10 tahun terakhir, pasar modal seharusnya bisa memberi kontribusi lebih banyak untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Alexander berharap melalui ISTC dapat mencetak investor pasar modal yang andal di masa depan. Ia menambahkan bahwa Indosat Ooredoo akan terus mengajak generasi muda untuk belajar berinvestasi saham dan investasi lainnya dengan memanfaatkan teknologi dan aplikasi digital sesuai dengan komitmen perusahaan yang ingin meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui dunia digital.
Menurut Alexander, Indosat Ooredoo berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas edukasi generasi muda Indonesia yang didukung oleh teknologi telekomunikasi dan aplikasi, termasuk edukasi tentang online trading yang banyak mengaplikasikan teknologi di dalam aktivitas perdagangan sahamnya. Saat ini dengan semakin menjamurnya online trading, lanjutnya, maka semua orang dapat mengakses langsung dan melakukan transaksi saham di mana saja.
"Apalagi saat ini dukungan teknologi sangat luar biasa. Sebagai perusahaan telekomunikasi digital terdepan, kami juga ingin menjadi bagian dari proses itu.” kata Alexander.
Seiring tumbuhnya jumlah investor, tren transaksi online trading saham memang tengah menjadi perhatian pelaku pasar, termasuk bagi perusahaan sekuritas. Menurut Direktur Trimegah Securities Stephanus Turangan, penyediaan layanan online trading dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan dan praktis dalam transaksi saham bagi nasabah.
“Hadirnya fasilitas online trading juga masih terkendala soal stigma dari masyarakat terhadap pasar modal yang penuh spekulasi dan bukan tempat investasi yang aman. Pandangan inilah yang menjadi tantangan kita untuk mengedukasi masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal,” kata Stephanus.
Dukungan BEI
Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan mengatakan BEI sangat mendukung program Corporate Social Responsibility (CSR) pilar edukasi milik Indosat Ooredo ini dan berharap kompetisi ISTC ini dapat memotivasi perusahaan terbuka lain untuk memunculkan ide-ide dan program-program CSR lain yang bermanfaat bagi kemajuan pasar modal pada khususnya maupun perekonomian Indonesia pada umumnya. Nicky juga berharap kompetisi ISTC dapat berkontribusi terhadap peningkatan jumlah investor di pasar modal Indonesia.
Apalagi performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengalami peningkatan 8,82% ke level 5.458,979 sejak kebijakan Amnesti Pajak disahkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 1 Juli 2016. Artinya potensi pasar modal Indonesia untuk terus maju dan berkembang menjadi bursa terbesar di kawasan Asia Tenggara ataupun Asia dalam beberapa tahun mendatang masih sangatlah besar.
"Kompetisi ISTC akan melengkapi program Yuk Nabung Saham BEI karena keduanya memiliki tujuan yang sama, mengajak masyarakat untuk masuk ke pasar modal," ujar Nicky.
Nicky menyampaikan fenomena positif yang terjadi saat ini. Sejak peluncuran kampanye Yuk Nabung Saham pada November 2015 lalu, euforia “menjadi investor” dan “menabung saham secara rutin” sangat menguat, apalagi dengan banyaknya rekor-rekor baru transaksi IHSG di tahun ini, kompetisi ini akan mempercepat pengenalan masyarakat kepada investasi di pasar modal, dan mendongkrak jumlah investor baru.
Nicky optimis jumlah investor pasar modal dalam negeri terus meningkat. Optimisme ini didasarkan pada catatan jumlah single investor identification (SID) yang sebelumnya sebesar 430 ribu di akhir 2015, telah meningkat menjadi 490 ribu per Juli 2016 lalu. Selain itu, lanjutnya, jumlah SID yang aktif juga telah meningkat 50% dari sebelumnya 57 ribu per bulan di akhir 2015, menjadi 85 ribu sampai dengan pertengahan 2016.
“Kompetisi ISTC akan melengkapi kemampuan investor baru dalam mengambil berbagai keputusan pembelian saham sehingga dapat membantu meningkatkan tidak hanya investor baru, tetapi jumlah investor yang aktif bertransaksi,” kata Nicky.
Sekedar informasi, program ISTC yang kedua ini mulai diluncurkan pada 11 Agustus 2016 dan mulai dibuka pendaftaran bagi peserta program kompetisi diiringi program roadshow ke 8 universitas di Indonesia. ISTC akan dibagi menjadi dua kategori yakni pelajar/mahasiswa dan masyarakat umum. Setelah itu, peserta akan diundang dalam bootcamp selama dua hari untuk mendapat edukasi mengenai pasar modal.

0 komentar:
Posting Komentar