Kamis, 18 Agustus 2016

8/18/2016 09:55:00 AM
bisnisupdate


Jakarta, 16 Agustus 2016 – Penyusunan RAPBN tahun 2017 dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi global dan domestik yang terjadi hingga saat ini, serta prospeknya yang akan terjadi dalam beberapa waktu mendatang. Selain itu, RAPBN tahun 2017 juga disusun berdasarkan langkah-langkah kebijakan yang telah dan akan dilakukan untuk menghadapi tantangan aktual, serta menjadikan perekonomian yang lebih stabil, dan pembangunan yang lebih cepat dan merata.

Dalam tahun 2016, situasi ekonomi global masih banyak tantangan, dimana pertumbuhan ekonomi global belum sepenuhnya pulih, harga komoditi masih relatif rendah, serta perdagangan dunia yang melambat. Situasi tersebut berimbas pada perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia, sehingga perlu dilakukan penyesuaian kebijakan atas kondisi terkini, antara lain dengan menjaga daya beli masyarakat dan percepatan belanja Pemerintah, sehingga perekonomian Indonesia dapat tumbuh 5 persen pada semester I tahun 2016.

Untuk menjaga pelaksanaan APBNP tahun 2016, pemerintah melakukan langkah konsolidasi fiskal, dengan melakukan koreksi proyeksi penerimaan perpajakan tahun 2016, pengendalian belanja negara, untuk menjaga defisit realisasi APBNP tahun 2016 dalam batas yang aman. Langkah konsodidasi fiskal tersebut menjadi salah satu landasan dalam penyusunan RAPBN tahun 2017, agar lebih rasional dan kridibel.

Kondisi ekonomi yang masih lemah tersebut diperkirakan masih akan berlanjut di tahun 2017, sehingga fokus Pemerintah adalah terus mengefektifkan belanja pemerintah sesuai prioritas, yaitu membangun infrastruktur, meningkatkan kualitas SDM terutama bidang pendidikan dan kesehatan, serta mengurangi kesenjangan. Sementara itu, usaha untuk menaikkan investasi dilakukan dengan terus mempermudah dan memperbaiki kegiatan iklim dunia usaha, diantaranya melalui paket kebijakan yang telah dan akan diluncurkan. Langkah tersebut, akan membuat pembangunan Indonesia lebih berkualitas dan berkesinambungan, mengefisienkan birokrasi dan ekonomi di dalam negeri, serta meningkatkan kemandirian bangsa dan daya saing ekonomi Indonesia.

Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2017

RAPBN 2017 disusun dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian global maupun domestik, yang tercermin dari asumsi dasar ekonomi makro sebagai berikut.

1) Pertumbuhan ekonomi diperkirakan pada kisaran 5,3 persen yang akan didukung terutama oleh kinerja pembentukan modal tetap bruto (PMTB), konsumsi masyarakat yang terjaga, dan perbaikan kondisi global yang mempengaruhi perdagangan internasional. Selain itu, Pemerintah tetap mengedepankan pertumbuhan yang berkualitas dengan terus memperbaiki kualitas sumber daya manusia, produktivitas, dan memperbaiki pemerataan pembangunan ekonomi.

2) Inflasi diperkirakan pada kisaran 4,0 persen terutama didukung oleh ketersediaan pasokan bahan kebutuhan pokok yang lebih stabil serta terselesaikannya proyek-proyek infrastruktur yang mendukung kelancaran jalur distribusi.

3) Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan pada kisaran Rp13.300 per dolar AS, yang antara lain dipengaruhi oleh masih cukup tingginya potensi aliran modal masuk akibat dari keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit), perbaikan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, serta kebijakan stimulus fiskal di Jepang dan Kawasan Eropa. Sementara, persepsi positif terhadap kinerja perekonomian nasional serta kebijakan amnesti pajak diperkirakan akan menjadi faktor positif dari sisi domestik.

4) Tingkat suku bunga SPN 3 bulan diperkirakan pada kisaran 5,3 persen yang dipengaruhi oleh masih tingginya permintaan surat berharga negara, potensi masuknya dana dari luar negeri (capital inflow) dengan berlakunya UU Amnesti Pajak, dan laju inflasi yang terkendali.

5) Indonesia Crude Price (ICP) diperkirakan rata-rata mencapai USD45,0 per barel, dipengaruhi oleh perkiraan penurunan produksi negara-negara Non-OPEC, dan peningkatan permintaan minyak dari negara-negara OECD dan China. Sementara itu, peningkatan produksi negaranegara OPEC, dan pencabutan sanksi terhadap Iran, serta penguatan nilai tukar dolar AS, diperkirakan akan menahan kenaikan harga minyak. 6) Lifting minyak dan gas bumi tahun 2017 diperkirakan masing-masing mencapai 780 ribu barel per hari dan 1.150 ribu barel setara minyak per hari.

Pokok-pokok Kebijakan RAPBN Tahun 2017

RAPBN tahun 2017 disusun untuk mencapai sasaran prioritas pembangunan tahun 2017 dengan memperhatikan perkembangan asumsi dasar ekonomi makro. Untuk hal tersebut, RAPBN tahun 2017 dirancang untuk memberikan daya dorong pada perekonomian secara terarah, dengan defisit direncanakan sebesar 2,41 persen terhadap PDB. Defisit tersebut akan ditutup dengan sumber-sumber pembiayaan yang dilakukan secara hati-hati dan menjaga rasio utang tetap dalam batas aman. Kebijakan fiskal tahun 2017 yang bersifat ekspansif tersebut, difokuskan untuk mendukung kegiatan produktif guna meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing nasional, serta memberikan perlindungan kepada masyarakat. Rincian RAPBN tahun 2017 adalah sebagai berikut.

Pendapatan negara tahun 2017 direncanakan sebesar Rp1.737,6 triliun, terutama berasal dari pendapatan nonmigas, antara lain penerimaan PPh dan PPN. Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah melakukan langkah-langkah kebijakan di sektor perpajakan antara lain (1) peningkatan tax base dan kepatuhan wajib pajak melalui kebijakan pengampunan pajak, ekstensifikasi dan penguatan basis data perpajakan, intensifikasi, dan implementasi konfirmasi Status Wajib Pajak bagi pelayanan publik, (2) pemberian insentif perpajakan untuk meningkatkan iklim investasi, daya saing industri, dan mendorong hilirisasi industri dalam negeri, (3) perbaikan regulasi perpajakan, (4) pengenaan cukai atau pajak lainnya untuk pengendalian konsumsi barang tertentu dan negative externality, dan (5) mengarahkan perpajakan internasional untuk mendukung transparansi dan pertukaran informasi, pertumbuhan investasi, peningkatan perdagangan dan perlindungan industri dalam negeri. Sementara itu, kebijakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada tahun 2017 diarahkan antara lain untuk meningkatkan dan mengoptimalkan PNBP K/L.

· Pada sisi lain, belanja negara tahun 2017 direncanakan sebesar Rp2.070,5 triliun, yang meliputi Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp1.310,4 triliun dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp760,0 triliun. Belanja Pemerintah Pusat dalam RAPBN tahun 2017 akan diarahkan untuk mendukung pencapaian sasaran pembangunan, antara lain dengan (1) memacu pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan merata; (2) mengurangi kemiskinan; (3) mengurangi pengangguran; (4) mengendalikan inflasi. Selain itu, Pemerintah juga akan terus meningkatkan kualitas belanja pemerintah pusat melalui penajaman efisiensi dan efektivitasnya, dengan mengarahkan pemanfaatannya untuk belanja produktif dan prioritas, termasuk program perlindungan sosial.

Sementara itu, pada belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa dalam RAPBN tahun 2017 akan dilakukan konsolidasi sesuai dengan perkembangan kapasitas fiskal dan efektifitas alokasinya, antara lain melalui: penyempurnaan pengalokasian dan pelaksanaan Dana Transfer Khusus, pemberian insentif yang lebih besar kepada daerah yang berkinerja baik dalam kinerja keuangan, pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, serta peningkatan Dana Desa untuk mempercepat pembangunan dari pinggiran sesuai nawacita.

Berdasarkan perkiraan pendapatan negara dan rencana belanja negara tersebut, maka defisit anggaran pada RAPBN tahun 2017 diperkirakan mencapai Rp332,8 triliun (2,41 persen PDB). Defisit anggaran tersebut akan ditutup dengan sumber-sumber pembiayaan anggaran yang mengacu pada kebijakan untuk mengendalikan rasio utang terhadap PDB dalam batas aman, memanfaatkan utang untuk kegiatan produktif dan menjaga keseimbangan makroekonomi serta mengoptimalkan pembiayaan yang kreatif dan inovatif untuk mengakselerasi pembangunan. Selain itu, pembiayaan anggaran tahun 2017 juga diarahkan untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKM, mendukung upaya peningkatan ekspor melalui National Interest Account, membuka akses pembiayaan pembangunan dan investasi kepada masyarakat secara lebih luas, serta mendukung peningkatan akses terhadap pendidikan dan penyediaan kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).



0 komentar:

Posting Komentar